Rabu, 17 September 2014

Konsep dasar Belajar Mengajar




A. Konsep Belajar

Pendapat para ahli tentang belajar antara lain;
Mois L. Bigge, “belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis”
James O. Whittaker, “belajar didefinisikan sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman”
 Jadi dapat ddisimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku siswa yang menetap dan tidak diwariskan secara genetis sebagai hasil pengalaman-pengalaman
Ada beberapa teori belajar yang penting dipelajari adalah;
          Teori Belajar Konstruktivisme
“belajar adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak tiba-tiba, karena pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap diambil atau diingat”
          Teori Belajar Sosial
“manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam, dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi, fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari determinan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan
          Teori Belajar Motivasi
Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah”
          Teori Belajar Komunikasi
“belajar adalah sebagai suatu hasil pengalaman”

B. Konsep Mengajar

Mengajar merupakan upaya menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Atau dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan kegiatan memberikan suatu pengalaman, pengetahuan ataupun ilmu kepada seseorang yang belajar
Oleh paham modern berpendapat bahwa mengajar merupakan aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan siswa sehingga terjadi proses belajar
JL Marsel berpendapat :
Agar berhasil mengajar seorang guru harus memperhatikan prinsip-prinsip
1.       prinsip konteks, artinya guru sebaiknya menyampaikan materi hendaknya dapat menciptakan hubungan-hubungan antara materi yang dibahas, untuk dapat digunakan sumber-sumber belajar, seperti buku, surat kabar, media elektronik, maupun lingkungan, dengan demikian siswa dapat memahami konteks dari materi bahasan dalam hubungannya dengan pengetahuan-pengetahuan lain;
2.       prinsip fokus, artinya dalam membahas suatu materi, hendaknya guru menetapkan pokok persoalan yang menjadi pusat pembahasan, pusat perhatian siswa sehingga pembicaraan tidak melebar keluar dari inti persoalan. Dalam prakteknya, prinsip konteks dan fokus hendaknya digunakan secara bersamaan agar saling melengkapi dengan memperhatikan proporsi masing-masing.
3.       prinsip urutan (sekuen), artinya dalam mengatur urutan materi pelajaran, hendaknya guru mengurutkan dari hal yang termudah ke yang tersulit, dari konkrit ke abstrak, materi yang menjadi prasyarat materi lain hendaknya dipahamkan kepada murid terlebih dulu sebelum ke materi selanjutnya;
4.       prinsip evaluasi, artinya dalam mengajar guru hendaknya mengintegrasikan evaluasi dalam kegiatan belajar mengajar, karena kegiatan ini berfungsi untuk mempertinggi efektivitas belajar, memotivasi siswa untuk lebih berprestasi
5.       prinsip individualisasi, artinya perbedaan-perbedaan yang ada pada diri masing-masing siswa hendaknya diperhatikan oleh guru, diantaranya tingkat kecerdasan (IQ), minat, perhatian, dan lain sebagainya. Maka perhatian guru dapat diberikan pada saat siswa mengerjakan soal dan lain-lain;
6.       prinsip sosialisasi, artinya diciptakannya suasana belajar dimana terjadi saling kerjasama antar siswa, kerjasama dalam mengatasi problema, menciptakan iklim persaingan yang sehat dalam mencapai tujuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar